Wednesday, March 14, 2012

Kisah Nabi Yusuf

Bismillah 


Transformasi, Ra’il dan Cinta 

Namanya Ra’il binti Ra’ayil atau Ra’el binti Ra’ael. Nama ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath Thabari dan Ibnu Abi Hatim dari Muhammad bin Ishaq. Sementara namanya yang lain bersumber dari riwayat Abu Asy Syaikh dari Syu’aib Al Juba’i. Sedangkan kebanyakan ulama’ yang berhati-hati lebih suka menyebutnya seperti yang disebutkan Allah dalam Al Qur’an: Imra’atul Aziz. Maka, izinkan saya kali ini menggunakan nama menurut versi Yahudi itu, Ra’il binti Ra’ayil.

Adalah sudah mafhum di dalam lintasan sejarah yang kita pelajari: kisah Yusuf dan Ra’il. Seorang perempuan yang sangat cantik dan merupakan ibu angkat dari Yusuf muda. Ia adalah seorang istri Menteri Keuangan di negara Mesir kala itu. Seorang istri yang kesepian karena bersuamikan seorang lelaki yang mandul yang tidak pernah menggaulinya. Tidak pernah memberikan haknya sebagai seorang istri berupa kebutuhan biologis. Kebutuhan rohani untuk meredam gejolak syahwatnya.

Maka, mendapati seorang pemuda berwajah tampan yang ketampanannya merupakan ketampanan setengah lelaki di bumi, Ra’il pun tergetar hatinya. Interaksi yang intens di dalam rumah dengan lawan jenis mau tidak mau memunculkan syaitan di dalam dirinya. Mulailah timbul benih ketertarikan di dalam diri Ra’il terhadap Yusuf yang tampan. Padahal suaminya telah berpesan agar ia menjaganya sebagai seorang putra.

Ra’il yang dibakar nafsu menyusun rencana keji kepada Yusuf muda. Ia pun menutup pintu-pintu di dalam rumahnya hingga hanya menyisakan dirinya dan Yusuf berdua. Tidak ada yang melihat mereka kecuali Allah. Seorang perempuan cantik dan lelaki tampan di dalam sebuah ruang tertutup. Syaitan semakin membakar birahi Ra’il.

“Marilah ke sini!” ajak Ra’il kepada Yusuf (Yusuf: 23)

Ajakan ini tentu saja bukan sekadar ajakan untuk mendekat. Namun, ini adalah isyarat dari Ra’il kepada Yusuf untuk melakukan perbuatan keji, persetubuhan, perzinaan. Ini merupakan puncak keganasan syaitan di dalam diri Ra’il. Selama ini pun ia telah berusaha untuk menundukkan Yusuf agar mau menjamahnya. Ia menggunakan ajakan dan rayuan yang halus. Namun, hari ini ia menggunakan cara yang kasar dan terang-terangan agar Yusuf mau menjadi budak nafsunya. Yusuf pun menolak dengan menyebutkan kebaikan Tuhan dan tuannya, suami dari perempuan yang sedang merayunya (Yusuf: 23). Ia tidak mau menjadi pengkhianat.

“Sesungguhnya,” kata Allah dalam Surat Yusuf ayat 24, “Perempuan itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan perempuan itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya…”

Di sini Ra’il bermaksud untuk mengajak Yusuf untuk menjamahnya. Dan Yusuf pun sebagai seorang lelaki muda sempat terbesit dalam pikirannya untuk menerima ajakan syaitan berwujud perempuan manis di depannya itu. “Nafsunya (Yusuf),” kata Az Zamakhsyari dalam Tafsir Al Kasysyaf, “Cenderung untuk berlaku supel dan memiliki ketertarikan kepadanya sebagai hasrat orang muda yang mirip dengan kemauan dan keinginan terhadapnya, sebagaimana hal ini adakalanya tergambar dalam kondisi dimana yang bersangkutan hilang akalnya.”

“Akan tetapi,” lanjutnya menjelaskan, “Yusuf mematahkan dan menolak hal ini dengan melihat keterangan Tuhannya yang ditetapkan terhadap orang-orang mukallaf, bahwa mereka diwajibkan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan. Kalau bukan karena kecenderungan yang kuat yang disebut dengan hamm (kehendak), niscaya yang bersangkutan tidak akan dipuji oleh Allah ketika menjauhinya.”

Selanjutnya adegan berkejaran antara lelaki terperkosa dengan perempuan pemerkosa terjadi. Yusuf menuju pintu kamar dan hendak melarikan diri. Namun, Ra’il berhasil meraih ekor baju Yusuf dan menyobeknya. Sementara itu, tanpa terduga Menteri Keuangan Qithfir muncul dari balik pintu. Konspirasi terhadap Yusuf pun dilakukan.

“Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu,” kata Ra’il kepada suaminya, retoris, “Selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (Yusuf 25)

Ah, saya yakin Anda lebih tahu kejadian selanjutnya tatkala Yusuf berhasil dibebaskan oleh pendapat anggota keluarga di rumah itu mengenai posisi sobeknya baju Yusuf. Maka, marilah kita melompat agak jauh ke masa perjamuan Ra’il dengan perempuan-perempuan kota golongan elit yang menghujatnya karena menggoda seorang budak.

Ketika para perempuan itu telah memegang jatah pisau masing-masing, Ra’il menyuruh Yusuf menampakkan diri. Semua perempuan kota itu terpana dengan sesosok manusia tampan di hadapan mereka. Bahkan mereka mengira bahwa ia adalah malaikat yang mulia (Yusuf 31). Keterpanaan mereka pada keelokan wajah pemuda Yusuf itu mengacaukan sensor syaraf dan koordinasi otot mereka hingga mereka masing-masing memotong jari mereka sendiri tanpa merasa kesakitan. Menurut Zaid bin Aslam, perempuan-perempuan itu tergila-gila kepada Yusuf, tidak sadar, dan kehilangan akal karena pemandangan yang mereka lihat. Melihat kejadian itu, gembiralah Ra’il.

“Imra’atul Aziz,” tulis Sayyid Quthb dalam Fi Zhilal Qur’an, “Melihat bahwa dirinya telah dapat mengalahkan perempuan-perempuan golongannya itu, dan mereka tercengang, terkagum-kagum, dan terbengong-bengong dengan munculnya Yusuf di hadapan mereka. Maka, berkatalah perempuan itu atas kemenangannya dengan tidak merasa malu-malu di depan perempuan-perempuan lain yang sejenis dan sekelas dengannya. Dan, dia membanggakan diri terhadap mereka bahwa Yusuf ini berada di dalam genggaman tangannya , meskipun dia tidak mematuhinya pada suatu kali (untuk mengajaknya berbuat serong). Tetapi, toh perempuan itu dapat mengendalikannya pada kali lain (untuk menampakkan diri kepada perempuan itu).”

Maka, kali ini tanpa tedeng aling-aling dan tanpa rasa risih, Ra’il mengakui di hadapan para perempuan kota itu bahwa ia memang menggoda Yusuf agar mau menjamah dirinya dan bersetubuh dengannya. Namun, ia juga mengakui bahwa Yusuf menolak mengikuti ajakannya itu (Yusuf 32). Rasa cinta yang didominasi oleh nafsu syahwati telah membuatnya menjadi perempuan yang menakutkan.

“Sesungguhnya,” kata Ahmad Musthafa Al Maraghi dalam tafsirnya, “Cintanya (Ra’il) kepada Yusuf telah merobek selaput jantung yang meliputinya, lalu tenggelam di dalam lubuknya. Maka dikuasailah dia oleh cintanya itu, sehingga tidak peduli lagi dengan akibat pelanggarannya atau nasib yang akan terjadi padanya.”

Dan demi menahan dirinya dalam kesucian dan menjauhi fitnah perempuan itu, Yusuf pun berdoa dan memilih dipenjara sesuai dengan ancaman Ra’il tempo hari. Akhirnya Yusuf pun dipenjara oleh ayah angkatnya sendiri, Menteri Keuangan Qithfir.

Selanjutnya, mari kita melompat lagi hingga ke adegan dimana Raja Mesir Ar Rayyan bin Al Walid telah memperoleh takwil mimpinya. Maka, ia pun ingin mengundang Yusuf agar menjadi orang kepercayaannya. Namun, Yusuf tidak mau dan meminta Raja Ar Rayyan melakukan investigasi atas kasus perempuan-perempuan yang melukai tangannya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia tidak pernah mengkhianati ayah angkat sekaligus tuannya. Hasilnya tentu saja menguntungkan Yusuf karena akhirnya kebenaran dapat ditegakkan dan menggantikan kezhaliman yang menimpanya.

“Sekarang jelaslah kebenaran itu,” kata Ra’il melihat bahwa kebenaran dan keadilan telah meninggi dan memenuhi ufuk langit, “Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf 51)

Nah, inilah titik balik yang dialami oleh Ra’il bin Ra’ayil. Ia mengakui kesalahannya dan ia pun bertaubat. Taubat nasuha. Taubat sesungguh-sungguhnya. “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang,” ujar Ra’il (Yusuf 53). Bahkan, kemudian ia menanggalkan kesyirikan yang melekat di dalam hatinya dan kini telah tergantikan oleh ketauhidan yang murni. Kini ia menjadi seorang yang berada dalam keterserahan diri di hadapan Allah. Namun, ternyata masih ada yang belum berubah di dalam hatinya. Perempuan ini masih mencintai seseorang yang dirayunya berbuat keji dahulu. Ra’il masih mencintai Yusuf. Ia masih mencintainya meskipun sudah belasan tahun ia dipenjara.

“Jadikanlah aku Menteri Keuangan (Mesir),” pinta Yusuf kepada Raja Ar Rayyan, “Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (Yusuf 55)

Permintaannya pun dipenuhi. Raja pun memecat Menteri Keuangan Qithfir dan me-reshufle kabinetnya. Ia mengangkat Yusuf menjadi Menteri Keuangan yang baru. Menurut Mujahid, beberapa malam setelah dipecat dari jabatan kementeriannya, Qithfir pun meninggal. Kemudian Raja Ar Rayyan berinisiatif untuk menikahkan Yusuf dengan janda Qithfir: Ra’il binti Ra’ayil!

Di kamar pengantin, di malam pertama mereka, Yusuf dan Ra’il berdua saja. Kini pintu kamar telah tertutup, dan tidak ada siapa-siapa selain mereka. Suasana ini seperti yang pernah terjadi belasan tahun silam tatkala mereka berduaan di kamar yang tertutup. Namun, kini berbeda. Kini, Yusuf bin Ya’qub adalah suami Ra’il binti Ra’ayil.

“Bukankah kesempatan seperti ini lebih baik dan terhormat daripada pertemuan kita dahulu ketika engkau menggebu-gebu melampiaskan hasratmu, wahai Ra’il?” tanya Yusuf kepada pengantin cantik di depannya. Ia mencintainya. Adegan ini dicatat Ath Thabari dalam Tarikh dan Jami’ul Bayan-nya.

“Wahai orang yang tepercaya,” jawab Ra’il pada Yusuf, mungkin dengan intonasi yang memanja dan menggemaskan, “Janganlah engkau memojokkanku dengan ucapanmu itu. Ketika kita bertemu dulu, jujur dan akuilah, bahwa di matamu aku pun cantik dan mempesona, hidup mapan dengan gelar kerajaan, dan segalanya aku punya.”

“Namun,” lanjutnya, “Ketika itu aku tersiksa karena suamiku tidak mau menjamah perempuan manapun, termasuk aku. Lantas aku pun mengakui dengan sepenuh hatiku akan karunia Allah yang diberikan atas ketampanan dan keperkasaan dirimu, wahai Nabi Yusuf.”

Selanjutnya, mereka menjalani hidup sebagai sepasang suami istri.

Ibnu Katsir dalam Qishashul Anbiya’ menuliskan bahwa setelah menikahi Ra’il, Yusuf baru mengetahui bahwa Ra’il ternyata masih gadis (perawan). Penyebabnya adalah karena suaminya yang dulu adalah seorang lelaki mandul yang tidak dapat mencampuri istri-istrinya. Kemudian dari pernikahan Yusuf dan Ra’il itu lahirlah dua orang putra, yakni Afrayim dan Mansa.

Cinta Ra’il di sini memang istimewa. Sejak awal, cinta yang dirasakannya kepada Yusuf selalu didominasi oleh kebutuhan apa yang ada di antara dua paha. Ia begitu terobsesi secara fisik pada lelaki tampan di dalam rumahnya itu. Dorongan birahi dan libido yang begitu menggebu seakan telah memutus urat malunya. Bahkan dalam tataran masyarakat paganis, ia dilecehkan karena tindakannya ingin memperkosa seorang lelaki yang tidak lain dianggap sebagai budak rumahnya.

Bahkan atas apa yang dirasakannya itu mampu menjadikannya sebagai perempuan yang kejam dan melakukan kebohongan terhadap orang lain, fitnah yang keji kepada seorang lelaki jujur dan suci, tipu daya terhadap perempuan lain yang menghinanya, dan kezhaliman memenjarakan orang lain yang tidak bersalah. Kesalahan yang ia lakukan telah bertumpuk-tumpuk hanya untuk memuaskan perasaannya untuk menundukkan lelaki istimewa yang dicintainya itu.

Dan dari apa yang dilakukannya itu ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan Yusuf semakin eksis dengan kepribadian dan prinsip-prinsip hidupnya. Ia mampu membersihkan diri dari berbagai kotoran fitnah meskipun harus bersiksa-siksa diri di kungkungan penjara. Sebuah tempat yang paling nyaman baginya dari menghindari fitnah para perempuan. Dan dari dalam penjara pula ia mampu menyusun strategi dan langkah-langkah taktis untuk membongkar kedok kezhaliman dan menancapkan pilar keadilan di langit Mesir.

Ketika kebenaran telah menjernih, ia bebas. Dan siapa-siapa yang tersalah pun bertaubat. Ra’il berada di titik balik kehidupan. Apa yang dilakukan Yusuf menjadikannya semakin respek kepada lelaki itu, begitu Anis Matta menyebutnya dalam Serial Cinta. Kini perasaan dan kecenderungan yang dirasakannya berubah. Dari gejolak hewani menjadi cinta suci yang tinggi. Dari kerendahan lumpur kali, meninggi ke langit matahari. Dari yang ada di antara dua kaki, menuju yang ada di sekuntum hati.

Jika Umar bin Khathab telah menghijrahkan cintanya, dari kecintaan pada diri ke kecintaan pada Sang Nabi, maka Ra’il bin Ra’ayil telah mentransformasikan cintanya, dari cinta semata syahwati ke cinta segenggam hakiki. Ia mengubah sekalut benang biru, menjadi lukisan langit berpelangi ungu. Ia mampu merubahnya karena ia tahu bahwa ia mau. Dan ia mau merubahnya karena ia tahu bahwa ia mampu. Ketika Umar mengubah ‘siapa’ dalam hirarki cintanya, Ra’il mengubah ‘apa’ dalam keistiqamahan arah cintanya 



http://www.facebook.com/kamuskehidupan/posts/333247990060578 

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...